Senin, 01 April 2013

Studi Kasus Hukum di Indonesia

"Contoh Studi Kasus Hukum Pidana"

       I.            Pendahuluan
Seseorang dikatakan hidup atau tidak selagi masih bernafas, atau mempunyai nyawa. Dengan demikian, nyawa merupakan pembeda antara seseorang dikatakan hidup dan tidak. Bahkan merupakan hak asasi manusia terpenting, karena dengannya hak-hak yang lain bisa bermanfaat dan diperoleh. Konsekuensinya, perlindungan terhadap “nyawa” adalah sangat penting. Bentuk konkritnya, siapapun yang berusaha “mengilangkan nyawa seseorang” maka dikategorikan sebagai tindakan yang menyinggung dan melangar hak asasi.
Islam sebagai agama yang rahmatan lil alamin, tidak ketingalan dalam memberikan perhatian “perlindungan terhadap nyawa”. Salah satunya seperti yang dikemukakan Dr. Abdur Rahman I. Doi, yang menyatakan, “Tidak ada agama di dunia ini yang menganggap hidup manusia sedemikian kudusnya, sehingga membunuh satu orang telah dianggap membunuh semua orang, dan siapa pun yang menyelamatkan hidup seseorang seolah-olah telah menyelamatkan hidup umat manusia.” Selanjutnya beliau mengadopsi al-Quran surat al-Maidah ayat 32.
Indonesia, yang KUHP-nya merupakan copy dari KUHP Belanda, memasukkan “menghilangkan nyawa” sebagai tindak pidana jenis kejahatan, bukan pelanggaran. Dengan demikian, “menghilangkan nyawa” secara filosofis merupakan perbuatan tidak adil dan tercela, sehingga harus dilarang. KUHP mencantumkan hal tersebut dalam bab XIX; Kejahatan terhadap Nyawa. Untuk selanjutnya, KUHP membaginya dalam berbagai bentuk. Salah satunya adalah “pembunuhan dengan berencana”, pasal 340 KUHP.
Makalah ini berusaha menganalisa suatu kasus yang terjadi dengan menggunakan pasal tersebut. Tujuannya adalah untuk mengetahui apakah kasus tersebut telah memenuhi unsur-unsur tindak pidana pada pasal tersebut, sehingga bisa dipidana seperti yang tercantum dalam pasal tersebut.

    II.            Posisi Kasus

Pelaku : Joko Mardianto (30)
Korban            : Ari Andrianti (29)
Perbuatan        : Pelaku (1) dengan mengendarai sepeda motor berusaha memepat kendaraan korban hingga motor korban jatuh. setelah itu korban berlari memasuki halaman rumah seorang warga (Warno) yang saat itu sedang memanaskan mobil, lalu korban pun meminta tolong kepada warno dan berusaha memasuki mobilnya. tapi pelaku (2) mengejar dan mencegah koban memasuki mobil. Tiba-tiba pelaku (3) langsung menyiramkan air keras dari jerigen ukuran sekitar 1 liter yang memang sudah dipersiapkan sebelumnya untuk melukai dan membunuh korban. Tubuh korban pun melapuh dan terdapat lima luka parah di bagian muka, leher dan perut.
Motif               : Pelaku (1) kecewa dengan korban, yang melaporkannya ke  polres malang karena menampar korban. (2) karena korban meminta untuk bercerai.
Waktu             : 07.00WIB, dan berlangsung sekitar  5 menit.
TKP     : JL Raya Dusun Watudakon, Desa Kendalpayak, Kec Pakisaji, Malang.

 III.            Landasan Teori

Tindak pidana pembunuhan berencana, yang oleh pembentuk undang-undang disebut dengan mord, diatur dalam pasal 340 KUHP. Bunyi pasal tersebut adalah sebagai berikut:
Barang siapa dengan sengaja dan dengan direncanakan lebih dahulu menghilangkan nyawa orang lain, karena salah telah melakukan pembunuhan dengan direncanakan lebih dahulu, di hukum dengan hukuman mati atau dengan hukuman penjara seumur hidup atau dengan hukuman sementara selama-lamanya dua puluh tahun.
Dari rumusan di atas, dapat diketahui bahwa tindak pidana pembunuhan mempunyai unsur-unsur sebagai berikut:
Unsur subyektif:         1. dengan disengaja
                                                2. direncanakan lebih dulu
Unsur obyektif:           1. menghilangkan nyawa orang lain
Kata “dengan sengaja” terletak di depan unsur-unsur lain, sehingga harus dibuktikan pada unsur-unsur tersebut. Arti kesengajan bisa dengan menggunakan teori kehendak atau teori pengetahuan. yaitu dengan membuktikan
1.         perbuatan sesuai dengan motif dan tujuan yang hendak dicapai.
2.         antara motif, perbuatan dan tujuan harus ada hubungan kasual.
Di samping itu, kesengajaan bukan hanya “mengetahui” saja. tetapi juga “dapat mempertimbangkan tentang kepastian” dan “dapat mempertimbangkan tentang kemungkinan”.
Arti direncanakan, salah satunya, adalah antara timbulnya “maksud membunuh” dengan “pelaksaan membunuh” masih ada tempo bagi si pembuat untuk berpikir dengan tenang.
“Menghilangkan nyawa orang lain” maksudnya membunuh. Sehingga merupakan delik formil. Bisa dilakukan dalam bentuk apapun yang terpenting berakibat “hilangnya nyawa seseorang”.

 IV.            Pembahasan

Kasus di atas merupakan suatu perbuatan pidana. Dikarenakan, kasus tersebut telah memenuhi tiga unsur perbuatan pidana; (1) perbuatan, (2) unsur melawan hukum obyektif, dan (3) unsur melawan hukum subyektif.
Unsur perbuatan terpenuhi, dengan adanya perbuatan pelaku menyiramkan air keras kewajah korban hingga seluruh tubuh dengan 1 liter jerigen. Ini dibuktikan dengan adanya 3 orang yang memberikan kesaksian perbuatan tersebut.
Unsur melawan hukum obyektif juga telah terpenuhi. Karena perbuatan pelaku telah memenuhi unsur-unsur delik yang tercantum dalam undang-undang, yaitu “sengaja”, dan “menghilangkan nyawa orang lain”.
“Sengaja” dibuktikan dengan perbuatan tersebut sesuai antara motif dan tujuan. Dalam kasus tersebut, bentuk perbuatan adalah menyiramkan air keras ke wajah korban; motifnya pelaku kecewa dan tidak terima dengan korban karena telah melaporkannya ke PolRes malang; dan tujuannya melampiaskan kekecewaannya kepada sang korban yang hendak meminta bercerai.  Jika ditelaah lebih lanjut, ternyata antara motif dengan tujuan terdapat kesesuaian dengan bentuk perbuatan.
“Menghilangkan nyawa orang lain” maksudnya membunuh, yang merupakan delik materiil. Dalam hal ini diperlukan adanya akibat, bukan hanya perbuatan. Dengan kata lain, perbuatan “menghilangkan nyawa orang lain” tidak disebut sebagai “membunuh” selama belum berakibat pada “hilangnya nyawa seseorang”. Dalam kasus tersebut perbuatan menyiramkan air keras telah berakibat pada “hilangnya nyawa korban”. Dengan demikian, unsur ini pun telah terpenuhi.
Dalam KUHP dikenal dua bentuk pembunuhan. Yaitu pasal 340 KUHP, pembunuhan dengan berencana, dan pasal 338 KUHP, pembunuhan biasa. Disebut pembunuhan dengan direncanakan terlebih dahulu apabila antara timbulnya “maksud membunuh” dengan “pelaksaan membunuh” masih ada tempo bagi si pembuat untuk berpikir dengan tenang.
Kasus tersebut termasuk jenis pembunuhan dengan berencana. Ini dibuktikan dengan dua hal. Pertama adalah motif perbuatan; pelaku kecewa dan tidak terima pada korban yang merasa membesar-besarkan masalah rumah tangga dengan pengaduan dan pelaporan ke Polres malang. Tentunya motif ini bukanlah suatu yang bersifat spontanitas. Tetapi sudah dipendam lama, dan dilampiaskan pada tempos delicti (waktu kejadian). Bukti kedua adalah adanya kiriman pesan singkat (sms) keponsel korban dan kakak korban yang bernada ancaman pembunuhan.
Unsur ketiga dari perbuatan pidana yang perlu dipenuhi adalah unsur melawan hukum subyektif, yaitu pertanggungjawaban dan kesalahan. Pertanggungjawaban dalam artian pelaku mempuinya kemampuan bertanggung jawab, atau tidak memenuhi ketentuan pasal  44 KUHP. Sedang kesalahan dalam artian kesengajaan atau kelalaian.
Pelaku dalam kasus tersebut terlihat sebagai orang yang mampu bertanggung jawab. Karena tidak ada hal-hal yang menunjukkan bahwa pelaku mempunyai pertanda tidak mampu bertanggung jawab. Sedang jenis kesalahan yang ada dalam diri pelaku adalah kesengajaan, dan ini telah dibahas sebelumnya.

    V.            Penutup

Dari pembahasan di atas dapat disimpulkan sebagai berikut:
  1. Perbuatan Joko Mardianto yang menyiramkan air keras kewajah korban hingga seluruh tubuh merupakan suatu perbuatan pidana, karena telah memenuhi tiga unsur perbutan pidana.
  2. Bentuk perbuatan pidananya adalah pembunuhan, karena adanya akibat yang ditimbulkan oleh perbuatan tersebut, yaitu tewasnya Ari Indrianti.
  3. Jenis pembunuhan adalah pembunuhan berencana, karena adanya tempo berpikir antara “maksud membunuh” dengan “pelaksanaan membunuh”.
  4. Kasus tersebut telah memenuhi pasal 340 KUHP.
Reaksi:

0 komentar:

Poskan Komentar